PPG UTM 2026 Dorong Calon Guru Berani Melawan Perundungan dan Kekerasan Seksual

Bangkalan, Kamis (29/1/2026) — Ruang orientasi Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Trunodjoyo Madura (UTM) pagi itu tidak sekadar menjadi tempat pertemuan calon pendidik masa depan. Di dalamnya tumbuh kesadaran penting bahwa sekolah dan kampus—yang semestinya menjadi ruang aman—masih menyimpan persoalan serius terkait perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual.

Isu-isu krusial tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa PPG UTM Tahun 2026 yang diikuti seluruh calon guru. Orientasi ini menjadi gerbang awal pembekalan nilai dan sikap sebelum para mahasiswa terjun langsung ke dunia pendidikan.

Materi disampaikan oleh Sumriah, S.H., M.H., yang secara lugas mengingatkan bahwa praktik kekerasan masih kerap terjadi, bahkan di lingkungan akademik. Padahal, kampus dan sekolah seharusnya menjadi ruang paling aman bagi tumbuhnya nilai kemanusiaan.

“Relasi kuasa yang timpang, rendahnya kesadaran hukum, serta ketakutan korban untuk bersuara sering kali menjadi pemicu utama munculnya kekerasan,” tegas Sumriah di hadapan peserta orientasi.

Ia menjelaskan bahwa kekerasan tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Perundungan verbal, intimidasi psikologis, hingga sikap intoleran kerap menjadi pintu masuk menuju kekerasan yang lebih serius, termasuk kekerasan seksual. Dampaknya pun tidak sederhana—trauma berkepanjangan dapat menghantui korban dan memengaruhi masa depan mereka.

“Kampus seharusnya inklusif dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Namun faktanya, masih banyak kasus kekerasan yang terjadi dan tidak semuanya berani dilaporkan,” ujarnya.

Pemaparan data dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) semakin mempertegas urgensi persoalan tersebut. Angka kekerasan seksual terhadap anak perempuan masih tergolong tinggi, terutama pada kelompok usia dengan latar belakang pendidikan setara SLTA. Data ini menunjukkan bahwa kekerasan seksual tidak hanya terjadi di ruang privat, tetapi juga mengintai lingkungan pendidikan.

Menurut Sumriah, mahasiswa PPG sebagai calon guru memegang peran strategis. Mereka tidak hanya dituntut cakap secara akademik, tetapi juga peka secara sosial dan berani bersikap. Pendidikan, katanya, bukan semata transfer ilmu, melainkan proses pembentukan karakter dan keberpihakan pada nilai kemanusiaan.

Diskusi berlangsung semakin dinamis ketika Nurul Huda Ramadhan, salah satu mahasiswa PPG UTM, mengangkat pertanyaan kritis terkait penanganan kasus perundungan di sekolah, khususnya ketika pelaku berasal dari keluarga pejabat atau pihak berpengaruh.

“Sering kali korban dan pihak sekolah takut melapor karena khawatir akan tekanan,” ungkapnya.

Menanggapi hal tersebut, Sumriah menegaskan bahwa perlindungan korban harus menjadi prioritas utama. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah menyediakan rumah aman sebagai ruang perlindungan sementara.

“Rumah aman hadir agar korban merasa terlindungi, nyaman, dan bebas dari tekanan fisik maupun psikologis. Di sanalah korban mendapatkan pendampingan sebelum menentukan langkah selanjutnya,” jelasnya.

Sebagai penutup, digaungkan jargon “Jangan takut, ayo lawan bersama kami”, sebuah pesan tegas dari Universitas Trunojoyo Madura melalui Satuan Tugas PPKPT. Pesan ini menegaskan komitmen kampus untuk mengawal setiap laporan perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual secara serius dan berkelanjutan.

Melalui orientasi ini, mahasiswa PPG UTM calon guru 2026 diharapkan tidak hanya memahami bahaya kekerasan, tetapi juga memiliki keberanian, kepedulian, dan tanggung jawab moral sebagai pendidik masa depan. Sebab, melawan kekerasan bukan hanya soal hukum, melainkan keberanian menjaga kemanusiaan sejak dari ruang kelas.

penulis : Azharuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kabar Berita Jatim