Lewati ke konten
Wednesday, 28 October 2026
Membaca Jawa Timur dari Dekat
Cari
Ekonomi

Toserba Sunan Drajat Jadi Sponsor Persela, Jadi Ponpes Pertama yang Sponsori Klub Bola

Direktur Persela Pradipta Aditya bersama Direktur Perekenomian Ponpes Sunan Drajat Gus Anas
Direktur Persela Pradipta Aditya bersama Direktur Perekenomian Ponpes Sunan Drajat Gus Anas

LMAONGAN | JATIMNUSA – Industri sepak bola profesional di Indonesia mulai dilirik oleh unit usaha berbasis pesantren sebagai ceruk pengembangan ekosistem ekonomi lokal. Fenomena ini terlihat dari masuknya Toserba Sunan Drajat, unit ritel milik Pondok Pesantren Sunan Drajat, sebagai salah satu penyokong dana Persela Lamongan untuk mengarungi kompetisi musim ini.

Langkah tersebut menandai bergesernya pola pendanaan klub daerah yang tidak lagi semata mengandalkan korporasi besar atau investor luar, tetapi mulai memanfaatkan kekuatan ekonomi domestik berbasis komunitas keagamaan.

Gus Anas mewakili Manajmeen mengungkapkan,  keterlibatan unit bisnis pesantren dalam dinamika sepak bola daerah didasari pada besarnya potensi basis massa pendukung Laskar Joko Tingkir.

“Pesantren dan unit usaha terbesar kami ada di Lamongan. Menjadi sponsor Persela merupakan bentuk keterikatan wilayah sekaligus sarana mempererat hubungan antara perekonomian pesantren dengan masyarakat, termasuk kelompok suporter LA Mania dan Curva Boys,” ujar Anas saat dikonfirmasi, Kamis (24/9/2026).

Keterlibatan lembaga pendidikan keagamaan dalam industri olahraga ini mengawali sejarah industri bola di tanah air. Lebih lanjut, Gus Anas menegaskan adanya pemisahan yang jelas antara kegiatan akademik santri dan manajemen bisnis komersial.

“Di pesantren, fokus utama santri tetap pada kegiatan belajar dan mengaji. Seluruh unit usaha dikelola secara terpisah oleh alumni dan masyarakat umum,” terangnya.

Masuknya ritel pesantren ke dalam ekosistem Persela juga dirancang guna membuka multiplier effect bagi sektor mikro. Jaringan distribusi toko dimanfaatkan sebagai rantai pasok pemasaran produk-produk UMKM lokal di Lamongan, serta titik distribusi merchandise resmi dan tiket pertandingan.

Diketahui sebelumnya, tantangan finansial kerap menjadi persoalan klasik bagi klub-klub sepak bola daerah di Indonesia. Menurut Gus Anas, masuknya unit usaha pesantren ini diharapkan dapat memberikan alternatif stabilitas pendanaan yang sifatnya jangka panjang.

Pihak pengelola optimistis kolaborasi ini mampu membentuk ekosistem yang saling menguntungkan (simbiosis mutualisme) antara klub, pelaku usaha lokal, dan masyarakat konsumen.

Di sisi lain, keterlibatan pesantren dalam panggung olahraga juga dinilai membawa misi peredaman tensi antar-suporter melalui pendekatan nilai-nilai persaudaraan.

“Kami berharap sepak bola bisa menjadi media silaturahmi yang memperkuat kebersamaan masyarakat Lamongan, sehingga iklim kompetisi tetap kondusif dan memberi dampak ekonomi yang nyata,” pungkasnya.